Ada seorang anak. Dia mempunyai seorang adik, laki-laki satu-satunya. Anak itu terbiasa mandiri, semua keperluan apa pun dia kerjakan sendiri. Ingin dia meminta tolong pada Ibunya. Namun engggan, Ibunya terlalu sibuk mengurusi berbagai hal. Sejak kecil, dia sudah terbiasa di tinggal pergi oleh Ibu dan Ayahnya. Sekian tahun berlalu, Ayahnya tak pernah lagi pulang ke rumah. Anak itu hanya mampu menangis, dia sangat merindukan sosok Ayahnya.
Semua orang yang dia kenal sudah ditanyai. Paman, Bibi, Saudara jauh bahkan para tetangga terdekat. Namun mereka semua tetap bungkam dan menatap sedih kepada anak beserta adik laki-lakinya itu. Hanya satu orang yang belum pernah dia tanya perihal Ayahnya.
Waktu demi waktu berlaluAnak itu pun akhirnya memberanikan diri bertanya pada orang tersebut, “ke mana ayah pergi Bu? Di mana dia sekarang dia? Mengapa sudah tidak pernah pulang ke rumah lagi? Apa Ayah tidak merindukan Kakak dan adik seperti kami yang selalu merindukannya?”
Orang yang ditanyai hanya terdiam membisu dan perlahan terisak menangis sekian lama sebagai jawaban dari pertanyaan anaknya. Ada pahit mengitari hati. Luka itu terbuka kembali. Ibunya hanya tergugu, tak sanggup menjawab pertanyaan anak sulungnya.
Sejak saat itu, anak itu pun tak pernah lagi menanyakan perihal Ayahnya. Bukan karena tak ingin. Sungguh keinginan itu semakin hari semakin besar saja. Pertanyaan itu menghantui hari-hari anak itu. Saat dia terlihat tertawa. Menghabiskan hari dengan bahagia. Tegar sekali hatinya dengan sejuta keceriaan yang tampak dari luar. Namun jauh di dalam lubuk hati terdalamnya, dia memendam luka, rindu dan pertanyaan besar yang selalu menghantui sepanjang hari-hari yang dia lewati.
Sekali lagi, dia tak ‘kan pernah mengeluarkan atau mengungkapkan semua itu pada dunia. Demi Ibu dan adik laki-laki satu-satunya. Yah, kini dia harus fokus pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Terutama dalam pendidikan dan rancangan masa depan dirinya dan adik satu-satunya. Dia harus menjadi seseorang yang berarti di masa depan. Dia harus membuktikan bahwa dia berani mempunyai mimpi-mimpi besar dan mewujudkannya sebaik dia berani memimpikan semua itu.
Semakin hari, anak itu dan adiknya pun semakin besar. Bertambah dewasa oleh lingkungan yang mereka temui. Kebutuhan pendidikan mereka pun semakin besar pula. Karena tak mampu menutupi semua itu dengan berjualan makanan tradisional seperti biasanya. Akhirnya Ibunya pun mencoba peruntukkan menncari nafkah di negeri orang.
Pagi itu, saat mentari mulai meninggi. Pergilah Ibunya dengan beberapa tetangga yang hampir mengalami nasib yang sama merantau ke negeri tetangga untuk mencari nafkah. Anak itu melepaskan kepergian Ibunya dengan senyum pahit. Adiknya pun meraung keras. Tak rela di tinggal pergi oleh Ibunya. Namun apalah daya, arus kehidupan dan kebutuhan telah memisahkan raga keluarga kecil itu.
Anak itu terlihat tegar. Dia baik-baik saja. Kepergian sosok Ibunya menjadikan dia anak yang lebih mandiri dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan adik satu-satunya. Tidak ada lagi penopang untuk sekedar berkeluh kesah. Mereka harus berani dan menjalani hidup ini dengan baik-baik saja seperti amanah Ibunya sebelum pergi. Toh, ini juga demi kebaikan mereka.
Meskipun jauh dalam lubuk hati terdalam ada luka yang kian membekas. Dalam hati dia berbisik lirih, “andai Ayah masih ada di sini. Mungkin semua ini tak ‘kan pernah terjadi?” Entahlah hanya Tuhan yang tahu akan seperti apa dia kelak. Untuk apa menyalahkan Takdir? Mungkin ini adalah garis takdir terbaik yang Tuhan anugerahkan untuk dirinya.
Hey, lihatlah anak itu! Sungguh elok rupanya. Dia tumbuh menjadi anak yang cantik, pintar dan semua orang memujinya. Teman-teman kelas, kakak-kakak kelas, guru-guru bahkan kepala sekolah menyayanginya. Dia tumbuh semakin baik. Luka itu semakin tersembunyi jauh tanpa celah. Masa lalu telah berhasil mendidik dia menjadi gadis yang istimewa. Prestasinya terdengar sampai ujung-ujung desa. Tak ada lagi gadis ringkih yang selalu dikasihani.
Sekian tahun telah berlalu, akhirnya Ibunya bisa kembali ke rumah. Sudah cukup bekal yang selama ini terkumpul. Tak perlu menambah waktu berlama-lama untuk saling terpisah. Bahagia sekali anak itu. Dia tersenyum cerah sambil memegang piala olimpiade dari sekolah. Bagaimana dengan adiknya? Tentu dia bahagia sangat bahagia karena Ibunya kembali dan membawa banyak oleh-oleh untuk dirinya. Di dekapnya erat-erat semua hadiah dari Ibunya. Semua orang tertawa melihat tingkahnya itu.
Waktu terus berlalu, sudah banyak hari berganti menjadi bulan dan tahun. Kini anak itu telah memasuki SMA (Sekolah Menengah Atas) tak jauh dari desanya. Tidak terasa, sudah duduk di kelas tiga. Banyak pula pengeluaran yang dibutuhkan. Jadwal ujian telah dekat, banyak waktu dihabiskan untuk bersiap dan menyambut masa depan yang lebih nyata.
Pagi buta dia membantu Ibunya mempersiapkan barang jualan. Beberapa bahan untuk membuat dan menjual kue tradisional kecil-kecilan di halaman rumah mereka. Setelah itu, baru dia akan berangkat sekolah. Setiap hari dia lakukan itu –membantu Ibunya, sekolah, pulang sore dan malam dia habiskan untuk belajar mandiri. Begitu pula seterusnya sampai dia lulus SMA.
Tiba-tiba ada sebuah keinginan besar yang bercokol di hati. Keinginan itu membawa pada kebimbangan yang begitu besar. Banyak pertimbangan dan kemungkinan yang harus dia pikirkan masak-masak.
“Bagaimana bisa, bukahkan kata orang-orang perlu biaya besar? Makan sehari-hari saja sulit. Bisa sampai SMA saja sudah luar biasa.” Batinnya terus bergejolak.
Banyak teman-temannya mengajak untuk memcoba-coba peruntukan. Mencari informasi sampai sebanyak-banyaknya, bahkan sampai lintas pulau. Segala jalur dia coba. Dari mulai jalur Prestasi Unggulan, Nasional sampai pada jalur Mandiri dia sambangi satu persatu. Toh tidak ada ruginya mencoba.
“Namun bagaimana caranya dia menyampaikan keinginan itu pada Ibunya?” Gadis itu bimbang, dia hela nafas perlahan. Pikirannya jauh melayang pada setiap kisah perjalanan hidup yang telah mereka lalui. Merenungi tahun demi tahun yang telah berlalu dan bagaimana tahun demi tahun selanjutnya? Membayangkan masa depan yang ingin dia gapai. Bukankah dia pantas bahagia?
Sejenak terlintas dalam pikirannya, pikiran yang menginginkannya menjadi seperti gadis remaja pada umumnya. Mempunyai orang tua yang lengkap, kehidupan terjamin, tentu bisa bebas menentukan dan memilih impian semaunya. Namun ya sudahlah, dia hanya bisa terus menjalani hari seperti biasa dan menciptakan kebahagian dengan caranya sendiri. Apalagi sekarang dia harus fokus pada ujian yang semakin dekat.
Malam puncak kelulusan itu pun tiba. Gadis remaja itu memberanikan diri berbicara pada Ibunya. Menceritakan semua keinginan yang selama ini terpendam. Ibunya menangis tergugu, bagaimana cara mewujudkannya impian anaknya? Hidup sudah semakin susah. Gadis remaja itu pun ikut menangis.
Dia berkata pada Ibunya, “Bu, Sisi tak akan mengharap lebih pada Ibu. Sisi hanya mengharap Ibu selalu mengirimkan doa-doa terbaik dalam setiap sujud dan munajah kepada-Nya. Semoga Ibu selalu meridhai ke mana pun setiap langkah kaki Sisi berpijak.”
Ibunya terisak, “pergilah anakku! Pergi, ke mana pun mimpimu berlabuh. Kau akan selalu menjadi cahaya menerang Ibu. Janganlah bersedih hati! Tuhan akan menjawab semua doa-doamu. Teruslah melangkah! Ibu akan selalu meridhai setiap langkahmu.”
Malam itu, tuntas sudah gadis remaja itu berbicara pada Ibunya. Sejak malam itu pula, langkahnya semakin ringan dalam melewati berbagai ujian. Sering pula dia sengaja melihat-lihat isi internet. Siapa tahu ada yang cocok untuknya. Berbagai bisnis kecil-kecilan semakin rutin dia jalankan. Meskipun hanya menghasilkan untung sedikit, tapi tidak apa-apa. Setidaknya untuk membantu menutupi segala kebutuhan.
Harapan terbesar gadis remaja itu adalah mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan. Namun apalah daya. Dia telah kalah berperang di jalur Prestasi Unggulan dan Seleksi nasional. Justru dia hanya mendapatkan tawaran potongan biaya pendidikan di luar pulau. Cukup membayar empat ratus ribu setiap semester sampai dia lulus kuliah. Ditinggalkanlah desa kecil –tempat kelahirannya. Guru-guru dan teman-temannya melepas kepergian gadis remaja itu di terminal kota.
Ibunya bercucuran air mata melepas kepergiannya di rumah. Adik laki-lakinya mampu hanya mengepalkan tinjunya. Sudahlah dia takkan berharap lebih. Sudah diterima di salah satu PTN saja sudah luar biasa. Perjalanan menuju pulau itu memakan waktu sekitar lima hari perjalanan darat. Jauh sekali jarak yang harus dia tempuh untuk mewujudkan itu. Ratusan kilometer menyebrangi lautan. Kini sudah dua hari setengah dia menghabiskan waktu di dalam bus. Sudah beberapa kali pula turun untuk beristirahat dan menuntaskan panggilan alam di terminal kota yang tidak dia kenali.
Tiba-tiba gawai itu berbunyi nyaring saat dia baru saja istirahat di salah satu terminal yang belum pernah dia sambangi. Kenapa pula gawai itu berbunyi? Dia pun membukanya perlahan, ternyata gurunya menelpon. Kabar itu begitu cepat terdengar. Sungguh bahagia hatinya. Sangat-sangat bahagia. Tuhan Maha Baik telah memberikan dia kesempatan itu. Kesempatan yang selalu dia nantikan dan mewarnai doa-doanya selama ini. Tak perlu lagi memikirkan biaya untuk kuliah, bahkan mendapat uang saku juga setiap semesternya.
Akhirnya di terminal itu, terminal antah berantah yang menjadi awal sejarah baru langkah kehidupannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung memesan tiket untuk pulang kembali menuju kampung halaman –tempat Ibu dan adiknya berada.
Tiga hari kemudian, gadis remaja itu sudah muncul di depan pintu rumahnya. Ibunya kaget bukan kepalang. Ada apa? Apa yang terjadi, sehingga anak gadisnya kembali lagi? Bukankah dia berkata akan menuntaskan segala administrasi dan keperluan kuliahnya terlebih dahulu. Semua itu tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Pagi itu. dipeluklah Ibunya erat-erat, “Bu, aku berhasil! Sungguh aku benar-benar berhasil membuka jalan menuju mimpi selanjutnya!” Ibunya menangis tergugu mendengar kabar itu. Dia hanya mampu memuji keagungan Tuhan yang tiada terkira. Tangis haru menyelinap erat pagi itu.
Sejak saat itu gadis remaja itu telah berubah menjadi pribadi penyanyang, baik hati dan lebih tegar lagi menjalani hidup. Kehidupan yang tak mudah bagi remaja seusianya dan penuh dengan arus gelombang pasang yang siap menerjang kapan saja.
Dialah teman, sahabat, kakak juga guru bagiku. Izinkanlah aku membagikan sedikit kisah tentangmu ini. (Ar-rahma, diselesaikan pada 25 Juli 2020 dan direvisi pada 29 September 2020)
Comments
Post a Comment