Seorang anak laki-laki telah lahir dari keluarga sederhana. Sangat sederhana. Jauh di bawah kaki gunung yang jarang di kenal orang luar. Dia besar dengan penuh kasih sayang dan kepercayaan diri yang tertanam sejak dini. Lahir dan hidup sebagai anak laki-laki satu-satunya membuat dia menjadi tulang punggung kedua setelah Ayahnya. Anak itu tumbuh menjadi pemuda sejati. Sejak memasuki SMA, dia sudah terbiasa menjalankan tanggung jawab yang harus dia emban. Tanggungjawab itu tidaklah membuat pundaknya semakin berat untuk mencapai segala impian yang diidamkan. Justru itu menjadi pacuan semangat yang tak pernah ada habisnya.
Semenjak SMA pula, dia mulai ikut mencari nafkah bersama Ayahnya. Walaupun saat itu hanya bekerja serabutan di sela-sela kesibukkan belajar. Apakah dia tak pernah mengeluh? Tentu pernah, kadang dia pun merasa lelah dengan semua beban yang ada di pundaknya. Tapi apa yang dia lakukan? Dia tetap jalan lurus ke depan menghadapinya dengan senyuman. Meskipun manusia tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi dihadapan tapi hidup harus tetap bertahan bukan? Cukup sebuah senyuman dari mereka yang tersayang yang menjadikan obat kepedihan. Senyum lembut Ibu yang menanti, kakak perempuan yang sedang berjuang dan adik-adik yang sedang belajar. Semua tersenyum menyambutnya di rumah. Apa pun yang mereka dapatkan, mereka terima dengan lapang dada.
Anak itu berpikir, mencari rasa cukup pada manusia tak akan ada habisnya. Ambisi akan selalu merasa lapar dan butuh pemuasan. Tentu bukan itu yang mereka cari. Arti dari cukup yang mereka cari adalah ketika ada tempat untuk beristirahat ketika lelah, ada menu yang terhidang ketika lapar dan kebutuhan sekolah yang terpenuhi. Sudah cukup semua itu, mereka sudah bahagia. Tak perlu bermewah-mewah untuk tinggal, pun untuk makan dan mencari ilmu. Mereka sudah cukup bahagia dengan kata sederhana. Saling mendukung, memberi dan melengkapi dikala susah dan duka. Mereka percaya ada Tuhan yang akan membersamai setiap perjalanan ini.
Semangat itulah yang selalu terbawa hingga masa-masa berikutnya. Ketika dia mau dan berusaha untuk dapat melanjutkan pendidikan sampai sarjana, ternyata Tuhan pun membantu mengabulkan rencana itu. Awal yang tak dapat disangka, dia bisa berdiri di salah satu kampus negeri di provinsinya. Perjalanan itulah yang membawanya terus melintasi portal waktu pada kejadian-kejadian tak terduga selanjutnya. Meskipun bersama cucuran air mata Ayah, Ibu, kakak dan adik-adiknya yang menyertai kepergiaannya. Namun tekad berhasil menguatkan dan membuatnya lebih kuat dari sebelumnya. Kerja keras itu telah membawa dirinya pada lintasan kata mudah untuk melakukan hal-hal yang semula terbayang sulit. Dia pun menemukan makna dari impian yang selama ini dia cari. Bersama tanggungjawab dan mencapai mimpi itu dia menjadi laki-laki hebat. Dia mampu menjadi sosok yang istimewa bagi keluarga dan lingkungan terdekatnya. Guru-guru besar di kampusnya pun mulai mengenal dan bangga terhadapnya.
Anak laki-laki itu sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah nan hebat. Dia pun jago berbahasa asing yang semula dianggap mustahil. Pemuda itu terus menyebarkan semangat dan mengabdian ilmu yang telah dia dapat di bangku kuliah pada generasi setelahnya. Meskipun penghasilan tidak seberapa tapi dia tetap percaya Tuhanlah yang akan membuatnya cukup. Beberapa tahun setelah dia mengajar di beberapa sekolah dan magang di kampus tempatnya belajar. Dia pun mencoba peruntukkan beasiswa keluar negeri. Hal yang semula hanya sebatas mencoba tapi berakhir bahagia. Kawasan Eropa yang semula hanya dapat dilihat dalam peta, dia pun bisa menyambanginya. Berdiri di salah satu kampus dengan jutaan penduduk lokal yang beda bahasa dengannya.
Apakah dia lakukan semua itu karena punya cukup uang? Tentu tidak, justru dia lakukan itu dalam kekurangan. Dia pernah menahan lapar di tengah dinginnya salju. Berjalan kaki ke sana ke mari mencari bahan referensi atau makan hanya dengan sekerat roti. Hanya berbekal lantunan doa-doa yang dilangitkan. Dia berhasil bertahan dan membawa kebanggaan. Menyelesaikan pascasarjana di tengah kekurangan. Lalu pulang dengan gelar dan semangat baru. Saatnya mengabdikan diri untuk orang tua dan negeri tercinta. Dia percaya ilmu itu bukan hanya untuk dirinya. Ada hak orang lain yang tersimpan di setiap pengamalannya.
Pemuda itu semakin gagah menunaikan lantunan nasihat yang dia dapat dari guru-gurunya. Sebuah nasihat sederhana kehidupan, “Janganlah kalian sekali-kali membuat kedua orang tua kalian menangis. Tangisan orang tua kalian akan terasa lebih sakit dan memilukan dari sakit yang kalian alami. Lingkaran Awan Mendung di sekitar orang tua kalian akan menghambat tersampaikannya doa-doa ke langit. Hidup itu cukup sederhana dijalani ketika kita mau berbagi rejeki yang Tuhan titipkan. Tentu dalam setiap rejeki itu akan ada hak orang lain di dalamnya. Para Istri janganlah melarang suaminya untuk menafkahkan sebagian harta yang di milikinya kepada Ibu dan Keluarganya. Para Anak janganlah kalian meninggalkan Kedua orang tua kalian dalam kesedihan. Perhatikanlah mereka, sayangilah mereka, buatlah mereka merasa aman dan nyaman dalam hidupnya.”
Mulailah dia menunaikan azam-azam yang dahulu pernah dia gumamkan. Membangun rumah yang layak untuk Ibu dan adik-adiknya, sebab Ayahnya telah lama berpulang. Berangkat haji sekeluarga, membiayai pendidikan kedua adiknya sampai sarjana dan menjamin masa tua Ibunya. Berbekal ikhlas semua menjadi mengalir begitu saja. Apakah hal itu membebaninya? Tentu tidak, justru inilah ladang baktinya kepada mereka yang telah membuatnya menjadi seorang pemuda gagah berani menghadapi setiap masalah yang dia temui. Bahkan dia masih bisa melanjutkan studi sampai memperpanjang gelar di depan namanya. S3 dalam negeri sudah tuntas dia tunaikan.
Sejarah panjang perjalanan hidup seorang anak telah tercipta begitu sempurna. Saling mengisi antara perjuangan dan pengorbanan pun sebaliknya. Tanggungjawab terbagi antara ambisi dan berbakti. Rasa ikhlas mengantarkan pada pundi-pundi keberhasilan di masa depan. Tentu bukan berarti tak ada rintangan. Justru hal itu mempermanis jalan perjuangan. Berbekal percaya dan menjaga, akhirnya dia dapat meraih hasil sempurna. Inilah kisah salah seorang anak di bawah kaki gunung yang berhasil meraih kemenangan.
Quote of the day: “Semakin banyak berbagi dan memberi, niscaya kan semakin banyak pula mengalir rejeki. Bahkan dari jalan yang tak disangka-sangka. Bisa jadi apa yang terlihat sulit, justru itu mudah dilakukan pun sebaliknya, apa yang disangka mudah dilakukan justru itu akan menjadi jalan tak bertahan.” (Diary pembelajar Ar-Rahma Stories, 12 Oktober 2020).
Comments
Post a Comment