Betulkah kata orang belajar itu di mulai ketika anak sudah siap atau minimal saat mereka telah berusia 5 tahun ke atas?
Lantas bagaimana bila anak sudah berusia 7 tahun lebih tetapi belum menunjukkan minat untuk belajar?
Itu adalah salah satu contoh dari pertanyaan yang sering muncul dan membuat orang tua dilema. Banyak faktor yang melatarbelakanginya seperti minimnya tingkat pendidikan orang tua, kurangnya pengalaman dalam mendidik anak, kesiapan dalam memiliki dan mendidik anak, faktor lingkungan keluarga, teman sebaya dan sosial serta beragam faktor lainnya.
Menurut GBHN (Garis Besar Haluan Negara) tahun 1973 pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha yang disadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, yang dipaksakan di dalam maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Sedangkan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Henderson dalam Sadulloh, dkk menyatakan pendidikan sebagai suatu proses pertumbuhan dan perkembangan sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, alat bagi manusia untuk pengembangan manusia yang terbaik dan intellegen untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya.
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan/mendidik dalam arti khusus adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Dalam konsep islam pendidikan anak akan dimulai sejak mencari dan memilih pasangan hidup untuk menikah. Mencari dan memilih pasangan menjadi salah satu hal pokok yang mendasari berawalnya pendidikan seorang individu dalam sebuah keluarga. Pasangan suami atau istri merupakan patner seumur hidup dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan bagi setiap anggota keluarga yang dimiliki. Ada ungkapan “ seorang anak tidak dapat memilih mau dilahirkan oleh siapa dan keluarga seperti apa. Karena itu adalah karunia Tuhan yang tak dapat di ubah. Tetapi seorang laki-laki atau perempuan dapat memilih mau pasangan seperti apa untuk menyempurnakan separuh dari agamanya.” Sehingga mencari dan memilih pasangan menjadi hal yang sangat penting dilakukan sebelum membangun sebuah keluarga. Keluarga yang di dalamnya tercipta sakinah, mawaddah warahmah dan agen pendidikan yang terbaik.
Keluarga menjadi agen pertama dalam memberikan pendidikan pada anak mulai dari kandungan sampai seumur hidupnya. Keluarga menjadi sekolah pertama dalam memberikan stimulasi awal pertumbuhan dan perkembangan anak ketika anak berada di masa keemasan atau sering di sebut dengan istilah the golden age. Golden age anak berada pada tahap usia 0-6 tahun menurut sisdiknas dan 0-8 tahun menurut NAEY (National Asssosiation for The Education of young children) yang terdiri dari program TPA, penitipan anak dalam keluarga (Family child care home), pendidikan prasekolah baik swasta maupun negeri, TK dan SD.
Suasana pendidikan dalam keluarga akan berlangsung seumur hidup (long life education). Keluarga menjadi penyumbang terbesar sifat, kepribadian dan pengembangan segala potensi yang dimiliki oleh anak. sehingga diperlukan keselarasan antara peran Ayah dan Ibu secara seimbang dalam menerapkan konsep-konsep pendidikan dalam keluarga. Dengan begitu rumah dapat menjadi sekolah yang pertama dan utama bagi anak sebelum dia mengenal dunia luar yang lebih luas dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.
Berdasarkan beberapa pandangan di atas maka dapat diketahui bahwa pendidikan pada anak di mulai sejak mencari dan memilih pasangan sebagai patner pendidikan seumur hidup (suami/istri) Lalu berlanjut ketika anak masih berada dalam kandungan hingga lahir ke dunia dengan selamat. Setelah itu pendidikan akan semakin diperlukan untuk mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri anak baik itu pertumbuhan, perkembangan dan kecerdasan yang dimilikinya. Pada tahap golden age inilah sangat memerlukan stimulasi pendidikan secara optimal untuk memaksimalkan perkembangan moral, kognitif, motorik, sosial dan kretivitas yang anak miliki. Bahkan pada tahap ini berbagai kecenderungan potensi kecerdasan anak juga mulai terlihat sesuai apa yang dia miliki. Setelah itu pendidikan pun akan terus berkembang sesuai tahap usianya pada masa anak-anak, remaja dan dewasa.
Sedikit kutipan (Quote): “Menikahlah karena memang kamu sudah siap untuk menikah. Siap untuk bertanggungjawab dalam mendidik dan memberi nafkah serta mengasuh istri dan anak-anak yang kelak akan ada diantara kalian. Bukan karena ikut-ikutan yang terkesan dipaksakan. Ketahuilah bila kau tak pandai membawa diri maka itu akan menjadi awal kesengsaraan dan kehancuran hidup yang sulit untuk kau hindari” (By: Ar-Rahma)
Referensi:
Aisyah, Siti, dkk. 2008. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka
Madyawati, Lilis. 2017. Strategi Pengembangan Bahasa pada Anak. Jakarta: Kencana
Sadulloh, Uyoh, dkk. 2018. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta
@Diary.Islami. 2017. Jodoh Tak Mau Menunggu. Jakarta: Visimedia
Comments
Post a Comment