Skip to main content

KIAT SUKSES MENCEGAH HILANGNYA PERMAINAN TRADISIONAL PADA ANAK ZAMAN MILLENIAL

Permainan menjadi ciri khas anak dalam mengahabiskan waktunya. Berbagai jenis permainan hadir dan berkembang secara turun-temurun dari generasi satu ke generasi lainnya. Setiap anak banyak menghabiskan waktunya dengan bermain, baik sendiri maupun berkelompok dengan teman sebayanya.


Beragam jenis permainan pun lahir dan berkembangan di kalangan masyarakat secara turun temurun. Banyak sekali jenis permaian tradisional yang sangat berperan penting dalam mengembangkan perkembangan fisik-motorik, sosial-emosional, kreativitas, bahasa, kemandirian, dan berbagai nilai-nilai moral dalam kehidupan masyarakat. Seperti permainan petak umpet, congklak, lompat tali, bentengan, egrang, boy-boyan, gatrik, engklek, gobak sodor, pletokan, gasing, main kelereng, main bola belkas dan masih banyak lagi permainan lainnya. Jenis permainan tersebut juga memiliki peraturan main dan penyebutan nama jenis permainannya pun berbeda-beda bergantung pada anak yang memainkan dan daerah asal yang memainkan. 


Berbagai jenis permainan tersebut menjadi ciri khas masa bermain anak yang sangat menyenangkan tanpa paksaan dengan berbagai nilai pembelajaran yang terkandung di dalamnya. Mereka belajar bersosialisasi dengan lingkungan dan teman sebayanya, mengungkapkan ekspresi wajah dan menejemen emosinya, menyelesaikan masalah, bersabar menunggu giliran dan masih banyak lagi pembelajaran yang terkandung dalam permainan tradisional. Sehingga secara tidak langsung permainan tradisional yang dimainkan anak ketika kecil menentukan karakter dan kemampuan anak di masa mendatang. Meskipun anak tidak sadar bahwa mereka banyak belajar dengan permainan yang dimainkannya.


Namun hal yang menjadi perhatian besar saat ini adalah semakin hilangnya beragam permainan tradisonal yang ada di kalangan masyarakat sebagai akar budaya setempat. Dan terganti dengan lahirnya generasi millenial yang banyak menghabiskan waktu dengan berbagai macam permainan dalam gadget. Sehingga membuat anak  banyak menghabiskan waktu bermain sendiri menggunakan  gadget bahkan sampai tidak bisa lepas dari gadget (kecandunduan gadget).


Hal tersebut banyak melahirkan generasi apatis terhadap lingkungan dan kurang cakapnya bersosialisasi baik itu dengan teman sebaya mau pun orang dewasa. Bahkan generasi gadget anak zaman millennial banyak sekali berdampak pada kurang berkembangnya perkembangan fisik-motorik dan sosial-emosional anak. Karena anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan diam berpaku pada gadget. Hal ini dapat terlihat dari semakin banyakknya kasus anak yang memiliki obesitas, menurunnya keinginan anak untuk bermain bersama teman sebaya yang melibatkan aktivitas fisik seperti berlari, melompat atau sebagainya. Sedangkan paparan radiasi gadget sangat berbahaya bagi mata, otak dan syaraf-syaraf gerak anak jika dilakukan secara terus-menerus dalam jangka panjang. 


Hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi masyarakat secara umum dan orang tua khususnya. Bayangkan ketika para nenek moyang bangsa banyak menghabiskan waktu masa kanak mereka dengan bermain. Sehingga banyak sekali kenangan dan pembelajaran yang di dapat  dari hasil bermain tersebut. Lalu terjaga sampai pada generasi setelahnya dengan berbagai keindahan dan modifikasi berbagai jenis permainan yang mereka dapat. Namun generasi millenial banyak menghabiskan waktu mereka dengan gadget, lalu apa yang akan mereka ceritakan kelak kepada generasi setelahnya?. Sederhananya permainan apa yang akan anak cucuk mereka mainkan kelak?


Salah satu hal yang dapat dilakukan tentunya adalah menjaga kelestarian berbagai jenis permainan tradisional tersebut dari generasi yang masih mengingat ke generasi setelahnya (anak cucuknya). Karena sejatinya permainan tradisional merupakan ciri khas karakter bangsa. Adapun upaya sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian permainan tradisional adalah: 

Pertama, mengenalkan berbagai jenis permainan tradisional kepada anak. Orang tua atau pendidik menjadi agen utama dalam melestarikan berbagai jenis permainan tradisional di sekitarnya. Mengenalkan betapa asyik dan menyenangkannya bermain berbagai jenis permainan tradisional bersama teman sebaya.


Kedua, batasi waktu anak bermain bersama gadget, jika perlu jangan memberikan gadget pada anak terutama saat anak berusia dini sampai anak memiliki kesiapan mental (bisa diajak diskusi dan memenej waktu pemakaian gadget dengan baik) untuk memegangnya. Orang tua atau pendidik harus mendampingi dan memberikan peraturan tegas pada anak kapan dan berapa lama anak boleh bermain bersama gadget dalam sehari.


Ketiga, mengisi waktu luang dengan bercengkrama dan bermain bersama anak. Orang tua harus mengusahakan untuk selalu memberikan waktu luang bermain bersama anak setiap hari. Sehingga anak mendapatkan kesenangan dan indahnya bermain bersama orang tua dan keluarga. Dalam bermain orang tua diharapkan dapat mengenalkan berbagai jenis permainan tradisional setempat dan nilai budaya yang ada di dalamnya. 


Keempat, berikan anak kesempatan bermain bersama teman sebayanya secara bebas namun dengan pendampingan orang dewasa. Orang dewasa hanya melihat dan mengamati tanpa mencampuri permainan yang dilakukan anak bersama teman-temannya. Biarkan anak bermain dan menetapkan sendiri peraturan permainan bersama teman-temannya tanpa campur tangan orang dewasa. Adapun Orang dewasa hanya ikut mendampingi dan memberikan arahan bila diperlukan atau saat-saat tertentu saja. Seperti ketika anak bertengkar dan tidak dapat menyelesaikannya sendiri, mengamati tingkat keamanan permainan yang dimainkan oleh anak dan lain sebagainya. 


Kelima, menghadirkan berbagai jenis permainan tradisional dalam berbagai event perlombaan baik di tingkat sekolah, rt/rw, daerah maupun  nasional. Hal ini dapat dijadikan salah satu usaha dalam menjaga kelestarian permainan tradisional bagi generasi penerus bangsa. Dengan adanya lomba-lomba permainan tradisional dapat mengingatkan kembali masyarakat terhadap berbagai jenis permainan tradisional yang hampir terlupakan dan memberikkan role model kepada anak dan masyarakat luas dalam memainkannya. (Ar-Rahma, Alumni PIAUD UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten).

 

Comments

Popular posts from this blog

CERMIN: Semudah Tersenyum

Seorang anak laki-laki telah lahir dari keluarga sederhana. Sangat sederhana. Jauh di bawah kaki gunung yang jarang di kenal orang luar. Dia besar dengan penuh kasih sayang dan kepercayaan diri yang tertanam sejak dini. Lahir dan hidup sebagai anak laki-laki satu-satunya membuat dia menjadi tulang punggung kedua setelah Ayahnya. Anak itu tumbuh menjadi pemuda sejati. Sejak memasuki SMA, dia sudah terbiasa menjalankan tanggung jawab yang harus dia emban. Tanggungjawab itu tidaklah membuat pundaknya semakin berat untuk mencapai segala impian yang diidamkan. Justru itu menjadi pacuan semangat yang tak pernah ada habisnya.  Semenjak SMA pula, dia mulai ikut mencari nafkah bersama Ayahnya. Walaupun saat itu hanya bekerja serabutan di sela-sela kesibukkan belajar. Apakah dia tak pernah mengeluh? Tentu pernah, kadang dia pun merasa lelah dengan semua beban yang ada di pundaknya. Tapi apa yang dia lakukan? Dia tetap jalan lurus ke depan menghadapinya dengan senyuman. Meskipun manusia tak k...

Permainan Tradisional Anak Indonesia

 PERMAINAN BALAP KARUNG (By: Ar-Rahma) Permainan balap karung adalah salah satu jenis permainan tradisional yang memanfaatkan kelincahan gerak motorik dengan media karung. Permainan ini sangat terkenal dimainkan pada saat hari-hari besar seperti hari proklamasi kemerdekaan. Balap karung merupakan permainan kompetisi antara dua orang atau lebih untuk mencapai kemenangan. Permainan ini biasa dimainkan di area outdoor (luar ruangan) seperti lapangan dan halaman yang cukup luas. Permainan balap karung juga sangat cocok dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan baik secara individu atau pun berkelompok. . Cara memainkannya cukup sederhana yaitu dengan menyiapkan dua buah karung atau lebih (disesuaikan dengan jumlah pemain). Setelah itu para pemain akan menentukan garis batas awal (start) dan garis batas akhir (finish) untuk memulai permainan. Biasanya garis batas awal (start) juga dijadikan garis batas akhir (finish) untuk menentukan pemenang. Hal ini terjadi bila para pemain sepakat un...

PERMAINAN TRADISIONAL: PERMAINAN PANCA SILA LIMA DASAR (ABC)

Halo generasi Z! salam kenal dari saya generasi millenial akhir tahun 90 an. Kali ini saya akan sedikit berbagi tentang permainan tradisional yang dulu pernah saya mainkan bersama teman-teman. Dulu permainan ini sering banget dimainkan ketika menunggu bel masuk sekolah berbunyi, lagi kumpul-kumpul bareng atau ketika mau main di luar tapi tiba-tiba hujan turun, bahkan cocok juga dimainkan ketika kamu sedang diperjalanan bersama teman-teman atau keluarga. Permainan ini juga cocok banget dimainkan bersama laki-laki atau perempuan, kapan dan di mana saja lho. Penasaran gak nih kira-kira? Yuk kita simak di bawah ini! Permainan panca sila lima dasar atau sering pula dikenal dengan permainan ABC-an. Sesuai dengan namanya, permainan ini dilakukan diiringi dengan penyebutan huruf A-Z sesuai jumlah jari yang di pasang oleh para pemain. Permainan ini dapat dimainkan minimal oleh dua orang pemain dan maksimal tidak terbatas (sesuai kesepakatan pemain). Lebih banyak anak yang ikut maka permainan ak...