Kecerdasan Majemuk (Multiple Intellegences/ MI)
(By: Ar-Rahma)
Halo guys, sore ini Ar-Rahma Stories akan sedikit berbagi tentang macam-macam kecerdasan. Hayo udah ada yang tahu belum nih… Yuk kita simak di bawah ini🤗
Kecerdasan menurut pendekatan psikometris dipandang sebagai sifat psikologis yang berbeda pada setiap individu yang dapat diperkirakan dan diklasifikasi berdasarkan tes inteligensi. Alfred Binet (seorang tokoh pengukuran inteligensi) menyatakan bahwa inteligensi merupakan sesuatu fungsional yang dapat diamati dan dinilai berdasarkan kriteria tertentu terhadap cara dan kemampuan seseorang dalam melakukan tindakan dan kemampuan mengubah arah tindakannya bila diperlukan. Sehingga kecerdasan seseorang terdiri dari tiga komponen pokok, yaitu (1) kemampuan mengarahkan pikiran atau tindakan; (2) kemampuan untuk mengubah arah pikiran atau tindakan; dan (3) kemampuan untuk mengkritisi pikiran atau tindakan diri sendiri (autocritism).
Sedangkan Howard Gardner menyatakan bahwa setiap individu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Manusia berpotensi memiliki 9 kecerdasan majemuk yang berbeda-beda antara individu satu dengan lainnya. Howard Gardner mengungkapkan kecerdasan majemuk pada seseorang diidentifikasi melalui observasi terhadap perilaku, tindakan dan kecenderungan dalam bertindak, kepekaan terhadap sesuatu, kemampuan yang menonjol, reaksi spontan dan kesenangan (hal yang disukai). Istilah kecerdasan majemuk ini dikenal dengan Multiple intellegences (MI) yang pertama kali dikenalkan oleh Howard Gardner pada buku yang berjudul Frame Of The Mind (1983 M). Sembilan (9) kecerdasan majemuk (Multiple intellegences) ini adalah sebagai berikut:
1. Kecerdasan Verbal-Linguistik (kecerdasan Linguistik)
Kecerdasan linguistik merupakan kecerdasan seseorang dalam memahami dan menggunakan bahasa, peka terhadap bunyi, struktur, makna, dan fungsi kata dalam bahasa. Individu yang mempunyai kecerdasan linguistik cenderung menyukai berkomunikasi secara lisan maupun tulisan secara efektif, mengarang cerita, berdiskusi dan mendebat suatu masalah, belajar bahasa asing, bermain game bahasa, membaca dengan pemahaman yang tinggi, mudah mengingat ucapan orang lain, tidak mudah salah tulis dan salah eja, pandai membuat lelucon, puisi, tepat dalam tata bahasa, kaya akan kosa kata dan menulis secara jelas.
Menurut Musfiroh salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui kecerdasan linguistik pada anak usia dini adalah sebagai berikut.
a. Mengobservasi kemauan dan kemampuan pada anak dalam berbicara. Anak yang memiliki kecerdasan linguistik cenderung banyak bicara, suka bercerita dan pandai melucu dengan kata-kata. Orang tua atau guru dapat mengamati anak ketika berbicara, bernegosiasi, mengekspresikan perasaan melalui kata-kata, dan mempengaruhi orang lain.
b. Mengamati kemampuan anak-anak dalam melucu dengan kata-kata dan menangkap kelucuan.
c. Mengamati kegiatan anak dalam bermain huruf, seperti mencocok, menukar huruf, menebak kata dan permainan lainnya yang melibatkan bahasa baik secara lisan maupun tulisan.
d. Mengamati kesenangan anak terhadap buku serta kemampuan dalam membaca dan menulisnya.
2. Kecerdasan Logis-Matematis
Kecerdasan logis-matematis berhubungan dengan berpikir secara logis melalui penalaran yang benar dan menggunakan angka dengan baik. Orang yang memiliki kecerdasan logis-matematis berarti cerdas dalam angka dan hukum logika berpikir. Individu yang memiliki kecerdasan ini pada umumnya mencakup tiga bidang yaitu matematika, ilmu pengetahuan (sains) dan logika. Kecerdasan logis-matematis mencakup kemampuan seseorang dalam menangani bilangan dan perhitungan, pola dan pemikiran logis secara ilmiah.
Hubungan antara matematika dan logika mengikuti konsistensi pemikiran hukum logika bagaimana argumentasi itu disusun, bukti dan syarat dinyatakan, serta membuat kesimpulan. Hukum logika melahirkan pemikiran ilmiah karena hipotesis yang muncul sebagai hasil dari pengamatan dan di uji coba melalui percobaan. Kecerdasan logis-matematis memiliki proses yang khas yaitu: kategorisasi (penyusunan berdasarkan kategori atau penggolongan berdasarkan kriteria tertentu), klasifikasi ( penggolongan berdasarkan kaidah atau standar tertentu), pengambilan keputusan, generalisasi (penyimpulan umum dari suatu kejadian, hal atau data), penghitungan (kegiatan numerical), dan pengujian hipotesis (kegiatan memeriksa dan mencoba sesuatu untuk mengetahui kebenaran dari perkiraan atau dugaan).
Individu yang memiliki kecerdasan logis-matematis cenderung memiliki kepekaan logis, mencerna pola-pola dan numeric, mampu mengolah alur memikiran yang panjang, menyukai berhitung dan menganalisis hitungan, menemukan fungsi-fungsi dan hubungan, memperkirakan, memprediksi, bereksperimen, mencari jalan keluar yang logis, menemukan adanya pola, induksi dan deduksi, membuat garis besar suatu bermasalahan, membuat langkah-langkah dan strategi bermain, berpikir abstrak dan menggunakan symbol serta menggunakan algoritma.
3. Kecerdasan Visual-Spasial
Kecerdasan visual-spasial merupakan salah satu jenis kecerdasan yang ditandai dengan kreativitas yang tinggi pada individu dalam memvisualisasikan suatu objek dengan gambar. Individu dengan kecerdasan ini peka terhadap persepsi dunia visual-spasial secara akurat dan mentarnsformasikan persepsi awal. Mereka cenderung menyukai dunia arsitektur, bangunan, dekorasi, apresiasi seni, desain atau denah dan lain sebagainya yang berhubungan dengan dunia gambar atau bentuk.
Individu memiliki kreativitas yang tinggi dalam membayangkan sesuatu dan melahirkan ide tersebut secara visual dan spasial melalui gambar atau bentuk yang dapat terlihat mata. Mereka mampu mengenali identitas suatu objek dengan sudut pandang yang berbeda dan memperkirakan jarak antara dirinya dengan suatu objek yang dilihat.
4. Kecerdasan Musikal
Menurut Madyawati kecerdasan musikal adalah kemampuan memahami aneka bentuk musik dengan cara mempersepsi (menikmati), mengkritik musik (membedakan), mengubah (composer) dan mengekspresikannya (penyanyi). Kecerdasan musikal ditandai dengan kemampuan seseorang dalam menciptakan dan mengapresiasi irama pola titi nada, warna nada, dan bentuk-bentuk ekspresi musikal, mudah belajar dan mengingat irama dan lirik, suka mendengarkan musik, memainkan instrument musik, mengenali bunyi instrument, mampu membaca musik, sering mengetuk tangan dan kaki mengikuti alunan musik dan memahami struktur musik.
Individu yang memiliki kecerdasan musikal cenderung memiliki suara yang merdu, mengenali dan menunjukkan nada-nada yang sumbang, senang mendengarkan musik, dapat memainkan alat musik dengan baik, merasa tidak nyaman apabila tidak mendengarkan musik dalam sehari, sering bersenandung dengan lagu-lagu, mampu mengingat lagu atau musik dengan baik, mudah mengikuti irama musik dan bermain perkusi sederhana dan lain sebaginya yang berhubungan dengan musik.
5. Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan kinestetik merupakan salah satu kecerdasan yang ditandai dengan kemampuan yang sangat baik pada diri seorang individu dalam mengolah gerakan tubuhnya untuk melakukan suatu gerakan seperti berlari, menari, dan lain sebagainya. Individu yang memiliki kecerdasan ini sangat terampil dalam mengolah kemampuan motorik kasar dan motorik halus ketika melakukan suatu gerak, koordinasi mata- tangan dan daya tahan tubuh sangat baik dalam mengolah gerak. Individu yang memiliki kecerdasan kinestetik sangat terampil dalam membuat gerak-gerak yang anggun, lincah, pandai menggunakan bahasa tubuh, dan mudah belajar melakukan suatu gerak. Pada umumnya individu yang memiliki kecerdasan ini membutuhkan latihan yang rutin secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu.
6. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan mencerna dan menanggapi suasana hati, maksud, motivasi, perasaan, dan keinginan orang lain. Individu yang memiliki kecerdasan ini memiliki kepekaan yang tinggi terhadap ekspresi wajah, suara, dan gerak-isyarat orang lain. Mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal sangat mampu dalam hal mengasuh dan mendidik orang lain, berempati dan bersimpati, berinteraksi, memimpin dan mengorganisasikan kelompok, berteman, menyelesaikan dan menjadi mediator konflik, menghormati pendapat dan hak orang lain, melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, peka terhadap minat dan motif orang lain, dan handal bekerja sama dalam tim. Orang yang memiliki kecerdasan ini mampu menjadi individu yang menyenangkan bagi orang lain terutama teman sebayanya.
7. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal adalah suatu kemampuan memahami perasaan sendiri, membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Individu yang memiliki kecerdasan ini cenderung suka berfantasi atau bermimpi, menjelaskan tata nilai dan kepercayaan, mengontrol perasaan, mengembangkan keyakinan dan opini berbeda, menyukai waktu untuk menyendiri, berpikir dan merenung. Mereka cenderung melakukan intropeksi diri, mengetahui dan mengelola minat dan perasaan, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sehingga pandai untuk memotivasi diri, mematok dan memahami tujuan hidup yang realistis.
8. Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis adalah suatu kemampuan individu dalam membedakan anggota-anggota suatu spesies, mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara formal maupun informal. Individu yang memiliki kecerdasan ini cenderung suka menganalisis flora dan fauna, menemukan dan mengidentifikasi pola dalam alam, melihat sesuatu secara detail mengenai alam, meramal cuaca, menjaga lingkungan, mengenali berbagai spesies, dan memahami ketergantungan pada lingkungan.
9. Kecerdasan Eksistensial
Kecerdasan eksistensial merupakan kemampuan berpikir sesuatu yang hakiki, menyangkut eksistensi berbagai hal, termasuk pola hubungan kehidupan-kematian dan kebaikan-kejahatan. Individu yang memiliki kecerdasan ini cenderung sering mempertanyakan hakikat kehidupan, mencari inti dari berbagai permasalahan, merenungkan berbagai hal atau peristiwa yang dialami, memikirkan hikmah atau makna dibalik suatu peristiwa, mengkaji ulang setiap pendapat dan pemikiran. Mereka cenderung menempatkan dan memperjuangan kebenaran pada sesuatu yang utama dibalik suatu peristiwa atau kejadian yang dialami.
Referensi:
Aisyah, Siti, dkk. 2008. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka
Madyawati, Lilis. 2017. Strategi Perkembangan Bahasa pada Anak. Jakarta: Kencana
Musfiroh, Tadkiroatun. 2008. Pengembangan Kecerdasan Majemuk. Jakarta: Universitas Terbuka
Quote: “setiap anak itu unik. Secara umum mereka sama, namun tidak seragam. Anak kembar saja memiliki sesuatu yang berbeda dalam diri mereka, apalagi anak yang terlahir tunggal. Mereka selalu mempunyai cara yang istimewa untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya. Tentu tak dapat dipaksakan, namun jangan pula terlalu membiarkan”
Coretan Pembelajar, 30 September 2020, Ar-Rahma Stories)
Comments
Post a Comment