Selasa, 13 Oktober 2020
Hari ini nampaknya agak berbeda dari hari sebelumnya. Bertepatan pada tanggal 14 Safar 1442, warga di lingkungan kami bersepakat untuk membuat ketupat bersama. Kegiatan ini rutin sekali dijalankan ketika 14 safar menyapa. Seperti biasa kami bertujuh akan membagi tugas masing-masing. Abah Kay akan membuat urung (cangkang) ketupat serta memotong seekor ayam kampung untuk menjadi pendamping hidangan. Sedangkan Mamak Kay bertugas mengolah ketupat dan lauk pauk pendamping sampai matang. Aku akan membantu Abah Kay untuk membuat urung yang bisa dibuat olehnya dan Mamak Kay memasak di dapur. Yah walau hanya sebatas mengulek atau membuat sambal kesukaan mereka.
Sejak semalam kami semua pun telah sibuk membuat urung untuk ketupat. Namun hanya urung hasil aku dan Abah Kay yang bisa dipakai untuk cangkang ketupat. Sedangkan Mamak Kay, N2, Viu, Mie dan Peanut hanya dapat menonton sampai pembuatan urung selesai. Bukan mereka tidak mau mencoba untuk membuat urung, akan tetapi pekerjaan membuat urung ini membutuhkan keterampilan tangan yang cukup hebat agar urung yang dihasilkan dapat digunakan dengan baik (tidak mudah sobek atau terlalu renggang). Sudah beberapa kali N2, Viu, Mie dan Peanut mencoba untuk membuat, namun berakhir dengan kegagalan. Walaupun aku dan Abah Kay sudah menjelaskan dan mempraktikkan kepada mereka berkali-kali sampai urung yang dibuat cukup untuk digunakan esok pagi. Tetap saja berakhir dengan kegagalan. Padahal hanya mengayam atas dan bawah secara bergantian, tapi tetap saja sulit dilakukan. Pekerjaan membuat urung pun selesai dilakukan. Saatnya tahap pengisian beras ke dalam cangkang ketupat. Pekerjaan ini dilakukan esok pagi agar urung yag telah siap sedikit layu (melemas) dan memudahkan pengisian beras ke dalam cangkang.
Pagi ini saatnya pengisian beras pada cangkang ketupat. Pengisian beras ke dalam cangkang ketupat dilakukan dengan hati-hati oleh Mamak Kay. Pasalnya bila beras yang dimasukkan terlalu sedikit makan ketupat akan terlalu lembek. Namun bila pengisian beras terlalu banyak, ketupat yang dihasilkan pun akan menjadi keras atau terlalu padat. Sehingga kurang nikmat untuk di santap. Aku sibuk sekali menemani Mamak kay memasak di dapur. Sedangkan Abah Kay harus mulai bekerja. N2 hari ini masih sibuk mengurusi kegiatan kuliah dan tugas-tugasnya. Viu disibukkan dengan ulangan tengah semesternya. Mie dan Peanut sibuk sekolah dan mengerjakan tugas mereka selama daring. Meskipun kadang-kadang tugas diberikan dan dikumpulkan secara luring dalam beberapa periode tertentu.
Menjelang makan siang, aroma ketupat dan lauk-pauknya pun sudah menguar nikmat. Membuat lidah sedikit meneteskan liur dan ingin segera mencicipinya. Saatnya makan ketupat bersama di rumah. Warga di lingkungan kami sebagian besar adalah petani yang menghabiskan hari bekerja di ladang atau kebun. Jadi tidak heran bila lauk pauknya pun kebanyakan adalah sayur mayur hasil perkebunan mereka seperti hidangan kulit melinjo, sambal petai, opor jengkol, pecel, sayur nangka dan macam-macamlah. Apalagi sekarang sedang musim melinjo, petai dan jengkol, sudah pasti akan ada menu-menu itu diantara kami. Setelah salat magrib, saatnya pengajian dan doa bersama di masjid. Walaupun sedang pandemic, tetapi hal itu tidak menyurutkan niat kami untuk berdoa bersama di masjid. Namun harus tetap menjaga n dan memperhatikan protocol kesehatan di masa pandemic ini.
Dari sebuah tradisi membuat ketupat inilah kami banyak belajar mengenai kerja keras, keterampilan, kebersamaan dan selalu bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala limpahan nikmatnya yang tak terkira. Menikmati ketupat menjadi lebih nikmat ketika dapat merasakan secara langsung bagaimana kerja keras untuk mendapatkan pucuk-pucuk kelapa terbaik. Setelah itu merasakan bagaimana keterampilan dan ketelitian yang dibutuhkan dalam mengayam urung ketupat. Walaupun hanya sebatas mengayam atas dan bawah secara bergantian, tapi tetap saja bila kurang teliti saat mengayam hasilnya akan buruk dan tidak dapat digunakan untuk membuat ketupat. Belum lagi pengisian beras dan proses perebusan yang memakan waktu relatif lama. Butuh sekitar 1-3 jam waktu perebusan untuk menghasilkan ketupat yang matang secara merata dan tahan lama (tidak cepat basi). Selama waktu perebusan ini pulalah kami diajarkan untuk mengefisienkan waktu sebaik mungkin. Mengisi waktu dengan memasak hidangan pendamping untuk ketupat yang sudah matang agar ketika ketupat sudah matang, lauk pauknya pun sudah tersedia dan siap untuk dinikmati bersama.
Quotes of the day: “Budaya adalah sebuah kata bermakna pemersatu. Beragam justru memperkaya dan saling menjaga. Dia selalu terulang kembali dan mengingatkan apalah yang dahulu pernah terjadi. Baik untuk selalu diulang kembali, buruk untuk diingat jangan sampai terjadi lagi. Kedua mata isi yang berbeda dapat menjadi apapun bergantung pada niat pemakainya.” (Ar-Rahma story: Kampung halamanku, 14 Oktober 2020).
Comments
Post a Comment