Seorang anak lahir tanpa mengenal sosok seorang ibu. Setelah kepergian ibunya, bapaknya pun lekas mencari pengganti untuk menemani dan mengurus segala keperluannya. Perlahan namun pasti kasih sayang dari sosok bapaknya pun jarang dia dapatkan. Bapaknya telah pergi membesarkan anak-anaknya yang lain bersama ibu sambungnya. Dia tumbuh dan besar bersama sosok Nenek yang sudah renta dan kakak-kakak yang belum mengerti segala hal. Tentu berbeda porsi antara kasih sayang Nenek dan kakak dengan kasih yang diberikan orang tua kandung.
Anak itu pun tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan terlihat ceria. Kakak-kakaknya telah pergi merantau ke kota untuk mencukupi kehidupan bersama. Tanpa kakak-kakaknya, neneknya pun menjadi semakin keras saja dalam mendidik gadis itu. Dia tumbuh besar dalam lingkungan yang keras dan sekolah pun seadanya. Ketika kakak-kakaknya telah membangun rumah tangga, gadis itu pun merasa sedikit kehilangan sosok-sosok yang menyayanginya. Dia pun ikut merantau ke kota besar untuk mencari penghidupan. Gadis remaja itu sudah merasa besar dan cukup dewasa untuk jauh dari keluarganya.
Semasa perantauan itu, dia pun bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu menyayanginya layaknya seseorang mencintai seorang wanita. Sekian tahun berlalu, menikahlah mereka dalam perantauan itu. Tidak ada lagi kiriman uang jajan dari kakak-kakaknya. Suami pun mendapat penghasilan terbatas. Karena kerasnya kehidupan ibu kota, mereka berdua pun harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Beberapa bulan berlalu, kabar gembira itu pun datang. Wanita muda itu telah mengandung anak pertamanya. Selama mengandung ini pula dia terus bekerja menjadi buruh di pabrik.
Kehamilan yang biasa-biasa saja. Tidak ada keluhan serius selama kehamilannya itu. Kebiasaan sehari-harinya pun tetap terbawa hingga masa kehamilannya itu. Dia sudah terbiasa melewatkan sarapannya dengan meminum segelas air dan makan siang hanya dengan sekerat roti. Ketika malam barulah dia makan dengan seporsi nasi. Wanita itu bukan pula orang yang suka jajan atau memakan cemilan di sela kesibukkan. Hal ini terus berlanjut hingga akhir kehamilan. Suaminya pun terlihat biasa-biasa saja.
Usia kehamilan Sembilan bulan, wanita muda itu pulang ke kampung halaman. Tidak lama kemudian lahirlah seorang putra. Bayi itu sangat kecil dan mungil. Dukun beranak yang membantu persalinan wanita muda itu pun menyarankan untuk membawa bayinya ke klinik terdekat. Bayi itu terlahir normal dan sehat, tapi sayang berat badannya sangat rendah. Bayi laki-laki itu lahir dengan berat badan kurang dari satu kilogram. Wanita muda dan suaminya itu sudah berpasrah. Ada kakak-kakaknya yang selalu menguatkan. Semua kebutuhan sang bayi mereka penuhi.
Apapun itu, bahkan mereka sempat meminta, “bila bayi ini masih punya kesempatan untuk hidup maka akan dipenuhi segala keinginannya dan bila dia harus kembali maka jangan berlama-lama.” Ternyata Tuhan masih memberikan anugerah kepada bayi itu untuk tetap hidup dengan sempurna. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan lincah. Menginjak usia balita, keharmonisan pernikahan wanita muda itu mulai teruji. Pertengkaran sering kali terjadi di depan anak laki-laki satu-satunya. Luapan emosi dan ucapan kasar terlihat dan terasa oleh anak itu setiap hari. Balita itu hanya meringkuk dan menangis melihat semua itu. Dia terlalu takut tapi hanya mampu terdiam. Menginjak usia 4-5 tahun, perceraian pun tak dapat dihindari. Wanita itu mengambil hak asuh anak laki-laki satu-satunya.
Wanita itu hidup bersama anaknya. Beberapa tahun berlalu, anak itu telah terbiasa dengan ucapan kasar dan melihat perbuatan kasar yang terlontar dari lingkungan sekitarnya. Tidak lama kemudian, wanita muda itu pun menikah lagi. Dia ikut bersama suami barunya. Anaknya pun ikut serta. Kini anak itu telah menginjak usia sekolah. Awal masa sekolah pun berlalu dengan biasa-biasa saja. Tidak ada masalah yang berarti. Semua menganggap mungkin belum saatnya anak itu mengerti tentang beragam pelajaran di sekolah. Tahun demi tahun pun cepat berlalu. Anak itu, kini telah memiliki adik, laki-laki dan perempuan. Dia merasa asing di rumah itu. Dia merasa berbeda, meskipun ayah tirinya baik padanya. Tetapi kasih sayang ibu dan ayah yang diberikan kepadanya, terasa tidak sama seperti yang dia lihat kepada adik-adiknya.
Anak itu sudah cukup besar untuk melihat dan merasakan keadaan rumahnya. Sekolah pun dia jalani hanya karena perintah ibunya. Beberapa kali dia tidak naik kelas. Meskipun sudah menginjak kelas akhir, dia masih belum mampu membaca dan menulis. Dia tidak mengerti apa isi dari pelajaran sekolah. Setiap ada PR, ibu dan ayahnya yang mengerjakan. Setiap ulangan pun dia kerjakan dengan asal menjawab pilihan ganda tanpa tahu makna dari setiap pertanyaan itu. Bagian isian dari soal, dia menjawab asal-asalan apa saja yang dapat dia lihat dari pilihan ganda atau dibiarkan kosong saja. Bila sempat ibu atau ayahnya akan mengajarkan membaca atau menulis di rumah. Namun ucapan dan perbuatan kasar sudah menjadi kebiasaan yang ikut serta dalam kegiatan itu. Anak itu hanya dapat menangis dan menyerah bila dia tak bisa. Ibu dan ayahnya sudah menyerah akan hal itu. Mereka terlalu sibuk bekerja dan membiarkannya begitu saja. Mereka hanya berharap suatu saat nanti anak itu akan mengerti seiring berjalannya usia dan kedewasaan. Namun mereka belum mengerti, bahwa anak itu membutuhkan kasih sayang yang layak untuknya. Dia ingin disamakan dengan anak-anak lain di luar sana. Dia ingin belajar dengan perhatian dan ketulusan. Dia ingin dimengerti dengan kelembutan. Namun itu hanya sebatas angan tanpa kepastian kapan kan terwujudkan.
Quote of the day: “Karakter akan terbentuk bagaimana lingkungan sekitar membentuknya, pengendalian pendidikan teruji untuk membenahi apa yang seharusnya tidak terjadi dan memutusnya di salah satu batang sebelum bercabang dan memperbanyak diri di masa yang akan datang.” (Ar-Rahma Story: Diary sang pembelajar, 7 Oktober 2020).
Comments
Post a Comment