Halo, generasi Z !๐
Hari ini Ar-Rahma Stories akan sedikit bernostalgia tentang salah satu permainan tradisional anak-anak Indonesia. Mau tahu kelanjutannya☝
Yuk simak dibawah ini๐ค
Permainan bentengan adalah permainan jaga tiang atau benteng yang dimainkan secara berkelompok. Jumlah pemain dalam kelompok harus seimbang antara kelompok satu dengan kelompok lawan. Misalnya dua lawan dua, tiga lawan tiga, empat lawan empat dan seterusnya. Permainan ini sangat cocok dimainkan oleh laki-laki atau pun perempuan di area atau tempat yang cukup luas seperti halaman atau lapangan. Media atau alat yang digunakan pada permainan ini cukup menggunakan benda-benda sekitar seperti tiang, batu atau pilar yang berfungsi sebagai benteng yang harus dijaga atau dilindungi dari serangan lawan.
Cara memainkannya adalah sebagai berikut:
a. Menentukan anggota kelompok dalam satu team dengan suten/suit atau batu kertas gunting dan hompipa antar pemain. Hasil suten/suit atau batu kertas gunting dan hompipa dikelompokkan dengan sesamanya (yang menang dengan yang menang dan yang kalah dengan yang kalah) dalam satu kelompok yang sama.
b. Menentukan “benteng” masing-masing kelompok. Arah “benteng” antar kelompok harus saling berhadapan dan terpisah jarak yang telah disepakati bersama.
c. Menentukan batas-batas dan aturan permainan bagi para pemain seperti batas pelarian, batas penyerbuan dan cara membebaskan sesama teman dalam kelompok dari tahanan lawan.
d. Para pemain akan memulai permainan dengan saling menyerang setelah mendapatkan energi dari menyentuh atau menginjak bentengnya masing-masing. Pemain yang lebih kuat adalah dia yang paling akhir dalam menginjak bentengnya. Jika pemain yang lebih dulu (awal) menginjak bentengnya terkena sentuhan lawan yang paling akhir menginjak bentengnya, maka dia akan menjadi tahanan lawan (kena). Tahanan lawan dapat diselamatkan oleh teman sekelompoknya bila berhasil tersentuh bagian tangannya oleh teman satu kelompoknya.
e. Point didapatkan dengan menyentuh atau menduduki benteng lawan dengan selamat (tanpa tersentuh oleh pemain lawan yang terakhir mendapatkan energi dari menyentuh bentengnya).
f. Tidak ada ketentuan durasi waktu yang diperlukan untuk mengakhiri permainan. Durasi permainan (waktu permainan) berlangsung sesuai dengan kesepakatan semua pemain yang ikut serta dalam permainan. Permainan berakhir bila dua kelompok yang bermain telah bersepakat mengakhirinya.
g. Hukuman yang berlaku dalam permainan ini disesuaikan dengan kesepakatan antara semua pemain seperti menggendong, bernyanyi dan lain sebagainya.
Manfaat dari permainan ini adalah sebagai berikut:
a. Melatih kekuatan gerak otot-otot kaki dan tangan, menjaga keseimbangan, meningkatkan daya tahan tubuh (meningkatkan kebugaran jasmani/ kesehatan fisik) ketika berlari, berbelok dan melompat untuk menghindari serangan lawan.
b. Melatih komunikasi dan interaksi sosial dengan teman sepermainan serta kemampuan untuk mengembangkan emosi dan sosialisasi yang baik dengan teman satu kelompok. Permainan ini mengharuskan anak untuk dapat mengungkapkan pendapatnya dan menghargai pendapat sesama teman sepermainan atau pun teman satu kelompoknya. Menerima kelebihan dan kekurangan teman satu kelompok dengan baik bagaimana pun kondisi mereka, mengikuti aturan-aturan permainan yang telah disepakati bersama dan sportif (lapang dada) menerima hasil permainan (kalah atau menang).
c. Melatih kemampuan dalam menyusun strategi. Setiap kelompok yang bermain akan membuat strategi khusus dan saling bekerja sama untuk mencapai kemenangan. Mereka akan menyusun taktik untuk menjaga bentengnya agar tetap aman, cara-cara menyerang lawan, cara-cara membebaskan teman satu kelompok dari tawanan lawan, cara-cara untuk menangkap lawan dan menduduki bentengnya.
Quotes of the day: “Bermain sudah menjadi naluri anak. Dia kebutuhan dasar yang butuh pemenuhan. Adakalanya orang dewasa mengerti tentang hal ini. Tak selalu dengan alat karena sejatinya tanpa alat pun mereka akan mencari cara untuk memenuhinya.” (Ar-Rahma Stories, 06 Oktober 2020)
Referensi:
Mulyani, Novi. Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia. Yogyakarta: Diva Press
Pengalaman masa kecil dan observasi pada lingkungan terdekat
Comments
Post a Comment